Senin, 09 November 2009

MAKHLUK HIDUP

Catatan Fosil Membantah Evolusi
Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup berasal dari satu nenek moyang. Spesies yang ada sebelumnya lambat laun berubah menjadi spesies lain, dan semua spesies muncul dengan cara ini. Menurut teori tersebut, perubahan ini berlangsung sedikit demi sedikit dalam jangka waktu jutaan tahun.
Dengan demikian, maka seharusnya pernah terdapat sangat banyak spesies peralihan selama periode perubahan yang panjang ini.
Sebagai contoh, seharusnya terdapat beberapa jenis makhluk setengah ikan - setengah reptil di masa lampau, dengan beberapa ciri reptil sebagai tambahan pada ciri ikan yang telah mereka miliki. Atau seharusnya terdapat beberapa jenis burung-reptil dengan beberapa ciri burung di samping ciri reptil yang telah mereka miliki. Evolusionis menyebut makhluk-makhluk imajiner yang mereka yakini hidup di masa lalu ini sebagai "bentuk transisi".
Jika binatang-binatang seperti ini memang pernah ada, maka seharusnya mereka muncul dalam jumlah dan variasi sampai jutaan atau milyaran. Lebih penting lagi, sisa-sisa makhluk-makhluk aneh ini seharusnya ada pada catatan fosil. Jumlah bentuk-bentuk peralihan ini pun semestinya jauh lebih besar daripada spesies binatang masa kini dan sisa-sisa mereka seharusnya ditemukan di seluruh penjuru dunia. Dalam The Origin of Species, Darwin menjelaskan:
"Jika teori saya benar, pasti pernah terdapat jenis-jenis bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama…. Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa lampau hanya dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan fosil." 1
Bahkan Darwin sendiri sadar akan ketiadaan bentuk-bentuk peralihan tersebut. Ia berharap bentuk-bentuk peralihan itu akan ditemukan di masa mendatang. Namun di balik harapan besarnya ini, ia sadar bahwa rintangan utama teorinya adalah ketiadaan bentuk-bentuk peralihan. Karena itulah dalam buku The Origin of Species, pada bab "Difficulties of the Theory" ia menulis:
... Jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi di mana pun? Mengapa alam tidak berada dalam keadaan kacau-balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaik-baiknya?.... Menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung?.... Dan pada daerah peralihan, yang memiliki kondisi hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan dengan kekerabatan yang erat? Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya.2
Satu-satunya penjelasan Darwin atas hal ini adalah bahwa catatan fosil yang telah ditemukan hingga kini belum memadai. Ia menegaskan jika catatan fosil dipelajari secara terperinci, mata rantai yang hilang akan ditemukan.
Karena mempercayai ramalan Darwin, kaum evolusionis telah berburu fosil dan melakukan penggalian mencari mata rantai yang hilang di seluruh penjuru dunia sejak pertengahan abad ke-19. Walaupun mereka telah bekerja keras, tak satu pun bentuk transisi ditemukan. Bertentangan dengan kepercayaan evolusionis, semua fosil yang ditemukan justru membuktikan bahwa kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk yang telah lengkap. Usaha mereka untuk membuktikan teori evolusi justru tanpa sengaja telah meruntuhkan teori itu sendiri.







Fosil-Fosil Hidup
Teori evolusi menyatakan bahwa spesies makhluk hidup terus-menerus berevolusi menjadi spesies lain. Namun ketika kita membandingkan makhluk hidup dengan fosil-fosil mereka, kita melihat bahwa mereka tidak berubah setelah jutaan tahun. Fakta ini adalah bukti nyata yang meruntuhkan pernyataan evolusionis.

Lebah madu hidup tidak berbeda dengan fosil kerabatnya yang berumur jutaan tahun lalu.


Fosil capung berumur 135 juta tahun tidak berbeda dengan kerabat modernnya.




Seorang ahli paleontologi Inggris ternama, Derek V. Ager, mengakui fakta ini meskipun dirinya seorang evolusionis:
Jika kita mengamati catatan fosil secara terperinci, baik pada tingkat ordo maupun spesies, maka yang selalu kita temukan bukanlah evolusi bertahap, namun ledakan tiba-tiba satu kelompok makhluk hidup yang disertai kepunahan kelompok lain. 3
Ahli paleontologi evolusionis lainnya, Mark Czarnecki, berkomentar sebagai berikut:
Kendala utama dalam membuktikan teori evolusi selama ini adalah catatan fosil; jejak spesies-spesies yang terawetkan dalam lapisan bumi. Catatan fosil belum pernah mengungkapkan jejak-jejak jenis peralihan hipotetis Darwin - sebaliknya, spesies muncul dan musnah secara tiba-tiba. Anomali ini menguatkan argumentasi kreasionis*) bahwa setiap spesies diciptakan oleh Tuhan. 4
Mereka juga harus mengakui ke-sia-siaan menunggu kemunculan bentuk-bentuk transisi yang "hilang" di masa mendatang, seperti yang dijelaskan seorang profesor paleontologi dari Universitas Glasgow, T. Neville George:
Tidak ada gunanya lagi menjadikan keterbatasan catatan fosil sebagai alasan. Entah bagaimana, catatan fosil menjadi berlimpah dan hampir tidak dapat dikelola, dan penemuan bermunculan lebih cepat dari pengintegrasian... Bagaimanapun, akan selalu ada kekosongan pada catatan fosil. 5

Senin, 02 November 2009

PATRIOTISME

Patriotisme, Nasionalisme, dan Kemandirian Santri

Penanaman sikap patriotisme, nasionalisme, dan hidup mandiri merupakan program yang harus ditanamkanSantri pada tunas bangsa. Generasi muda harus mampu bertindak sesuai dengan nuraninya dan mampu membangun bangsa tanpa tergantung pada bangsa lain.
Banyak cara yang ditempuh para pendidik dalam menanamkan semangat itu. Di antaranya, melalui pelajaran PPKN dan kegiatan pramuka.
Menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, banyak sekolah mengadakan perkemahan pramuka. Aktivitas ini antara lain dimaksudkan untuk memupuk sikap patriotisme, nasionalisme, dan membentuk sikap kemandirian siswa serta mengajak siswa untuk melakukan refleksi terhadap perjuangan para pahlawan ketika merebut Bumi Pertiwi.
Di sisi lain, disadari atau tidak, pesantren telah melakukan proses kehidupan yang mandiri walau tanpa konsep dan teori seperti yang termaktub dalam kepramukaan. Ditilik dari hidup keseharian, bisa dikatakan para santri justru sejak dini berlatih untuk hidup mandiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, santri dituntut melakukan proses kemandirian hidup, seperti beraktivitas secara nurani, melaksanakan kegiatan ekonomi, serta membangun solidaritas yang tinggi.
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, santri harus memiliki kesadaran sendiri. Para santri hidup lepas dari pantauan orangtua. Pesantren mengajarkan bahwa dalam melakukan kegiatan apa pun harus berangkat dari kesadaran sendiri, tanpa pamrih, serta lepas dari tekanan pihak lain sekalipun orangtuanya.
Di pesantren, santri juga terbiasa mengelola keuangannya sendiri. Berbekal uang saku dari orangtua, mereka dituntut mampu untuk mengelola uang sakunya agar bisa mencukupi seluruh kebutuhannya, baik makanan, Pesantrenpakaian, pendidikan, dan kebutuhan hidup yang lain. Pesantren memberikan pengalaman untuk hidup hemat dan memakai uang secara tepat guna kepada para peserta didik.
Di pesantren, mereka juga terbiasa membangun solidaritas yang tinggi. Misalnya, Pondok Pesantren (PP) Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Situbondo; PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo; PP Sidogiri, Pasuruan; dan pesantren lain yang dihuni oleh para santri yang datang dari latar belakang berbeda. Mereka datang dari berbagai daerah, pulau, dan etnis di Indonesia. Bahkan ada yang datang dari luar negeri.
Para santri itu mempunyai budaya yang beragam. Untuk itu, para santri harus mampu melepaskan sekaligus melebur budayanya serta menyesuaikan diri dengan gaya hidup di pesantren itu. Dalam kondisi tersebut, solidaritas diimplementasikan.
Pendidikan pesantren juga memupuk rasa patriotisme dan nasionalisme. Jika dikaji secara literal sesuai dengan referensi yang dipelajari, santri merupakan kaum yang pertama kali dicekoki dengan paham patriotisme. Sebagian besar literatur yang mereka pelajari memuat banyak tentang arti penting pembelaan terhadap negara, terutama dalam bab perjuangan (jihad).
Sebagai satuan pembelajaran, Syech al-Malibari dalam kitabnya menerangkan bahwa membela negara merupakan sebuah keharusan bagi setiap warga negara dan tidak bisa ditinggalkan (al-Malibari, Fath al-Mu'in; 133). Selain itu, ada hadist nabi yang menyatakan, mencintai negara merupakan bagian dari keimanan. Di samping pendidikan patriotisme, pesantren juga mengajarkan tentang pentingnya meningkatkan sikap nasionalisme. Dalam kitab suci Al Quran termaktub larangan menyepelekan atau mengejek orang lain. Sebab, orang yang meremehkan atau mengejek orang lain tersebut belum tentu lebih baik dari mereka yang diejek. (QS. Al-hujarat 11). Dengan demikian, sebelum dunia sekolah gencar memberikan pendidikan tentang arti penting patriotisme, nasionalisme, serta hidup mandiri, pesantren telah lebih awal memberikan wawasan tersebut kepada para peserta didiknya.