Patriotisme, Nasionalisme, dan Kemandirian Santri
Penanaman sikap patriotisme, nasionalisme, dan hidup mandiri merupakan program yang harus ditanamkan
pada tunas bangsa. Generasi muda harus mampu bertindak sesuai dengan nuraninya dan mampu membangun bangsa tanpa tergantung pada bangsa lain.
Banyak cara yang ditempuh para pendidik dalam menanamkan semangat itu. Di antaranya, melalui pelajaran PPKN dan kegiatan pramuka.
Menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, banyak sekolah mengadakan perkemahan pramuka. Aktivitas ini antara lain dimaksudkan untuk memupuk sikap patriotisme, nasionalisme, dan membentuk sikap kemandirian siswa serta mengajak siswa untuk melakukan refleksi terhadap perjuangan para pahlawan ketika merebut Bumi Pertiwi.Di sisi lain, disadari atau tidak, pesantren telah melakukan proses kehidupan yang mandiri walau tanpa konsep dan teori seperti yang termaktub dalam kepramukaan. Ditilik dari hidup keseharian, bisa dikatakan para santri justru sejak dini berlatih untuk hidup mandiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, santri dituntut melakukan proses kemandirian hidup, seperti beraktivitas secara nurani, melaksanakan kegiatan ekonomi, serta membangun solidaritas yang tinggi.Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, santri harus memiliki kesadaran sendiri. Para santri hidup lepas dari pantauan orangtua. Pesantren mengajarkan bahwa dalam melakukan kegiatan apa pun harus berangkat dari kesadaran sendiri, tanpa pamrih, serta lepas dari tekanan pihak lain sekalipun orangtuanya.
Di pesantren, santri juga terbiasa mengelola keuangannya sendiri. Berbekal uang saku dari orangtua, mereka dituntut mampu untuk mengelola uang sakunya agar bisa mencukupi seluruh kebutuhannya, baik makanan,
pakaian, pendidikan, dan kebutuhan hidup yang lain. Pesantren memberikan pengalaman untuk hidup hemat dan memakai uang secara tepat guna kepada para peserta didik.
Di pesantren, mereka juga terbiasa membangun solidaritas yang tinggi. Misalnya, Pondok Pesantren (PP) Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Situbondo; PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo; PP Sidogiri, Pasuruan; dan pesantren lain yang dihuni oleh para santri yang datang dari latar belakang berbeda. Mereka datang dari berbagai daerah, pulau, dan etnis di Indonesia. Bahkan ada yang datang dari luar negeri.
Para santri itu mempunyai budaya yang beragam. Untuk itu, para santri harus mampu melepaskan sekaligus melebur budayanya serta menyesuaikan diri dengan gaya hidup di pesantren itu. Dalam kondisi tersebut, solidaritas diimplementasikan.
Pendidikan pesantren juga memupuk rasa patriotisme dan nasionalisme. Jika dikaji secara literal sesuai dengan referensi yang dipelajari, santri merupakan kaum yang pertama kali dicekoki dengan paham patriotisme. Sebagian besar literatur yang mereka pelajari memuat banyak tentang arti penting pembelaan terhadap negara, terutama dalam bab perjuangan (jihad).
Sebagai satuan pembelajaran, Syech al-Malibari dalam kitabnya menerangkan bahwa membela negara merupakan sebuah keharusan bagi setiap warga negara dan tidak bisa ditinggalkan (al-Malibari, Fath al-Mu'in; 133). Selain itu, ada hadist nabi yang menyatakan, mencintai negara merupakan bagian dari keimanan. Di samping pendidikan patriotisme, pesantren juga mengajarkan tentang pentingnya meningkatkan sikap nasionalisme. Dalam kitab suci Al Quran termaktub larangan menyepelekan atau mengejek orang lain. Sebab, orang yang meremehkan atau mengejek orang lain tersebut belum tentu lebih baik dari mereka yang diejek. (QS. Al-hujarat 11). Dengan demikian, sebelum dunia sekolah gencar memberikan pendidikan tentang arti penting patriotisme, nasionalisme, serta hidup mandiri, pesantren telah lebih awal memberikan wawasan tersebut kepada para peserta didiknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar